Seringkali, kita terjebak dalam pemikiran bahwa Komunitas Sel (Komsel) hanyalah aktivitas rutin atau sekadar suplemen kecil dari Ibadah Raya di hari Minggu. Namun, kebenaran yang sesungguhnya jauh lebih mendalam. Komsel bukan sekadar program; ia adalah fondasi utama tempat sebuah gereja dilahirkan, dibentuk, dan mengalami pertumbuhan yang nyata. Sama seperti sel dalam tubuh manusia yang membawa kehidupan dan memiliki kemampuan untuk berkembang biak, demikian pula Komsel yang sehat menjadi unit terkecil yang hidup dan dinamis. Gereja yang besar tidak akan pernah bisa berdiri kokoh secara terbuka jika tidak dimulai dari akar-akar komunitas kecil yang kuat. Dalam kisah para rasul 5:42 memberikan pengertian akan teladan jemaat mula-mula yang menunjukkan bahwa pemberitaan Injil tidak terbatas pada gedung yang megah, melainkan bersemi di rumah-rumah sederhana. Di dalam Komsel, terjadi sebuah perjumpaan yang intim, dimana terdapat hubungan yang akrab dan sederhana memudahkan Injil disampaikan secara pribadi kepada mereka yang belum percaya. Di dalam komsel orang merasa diterima dan aman untuk bertanya serta mengalami pertumbuhan iman tanpa rasa canggung. Bahkan lebih dari pada itu komsel menjadi ruang untuk menerapkan pengajaran Firman Tuhan dan saling menguatkan melalui kesaksian hidup. Esensi dari Komsel bukanlah soal megahnya tempat atau banyaknya jumlah anggota, melainkan tentang kesetiaan. Setia dalam mendengarkan, setia dalam mengalami perjumpaan dengan Tuhan, dan setia memberitakan bahwa Yesus adalah Mesias kepada orang lain. Melalui komitmen di dalam Komsel, jemaat dibimbing untuk tidak hanya mengenal Kristus secara intelektual, tetapi hidup sesuai dengan Firman-Nya setiap hari.